citra

GAMBAR FOTO PETA LOKASI PULAU KOMODO Via Google Maps


Pulau Komodo berada di Kepulauan Nusa Tenggara,di sebelah timur Pulau Sumbawa, yang dipisahkan oleh Selat Sape,lengkapnya di wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia.Tempat ini merupakan tempat habitat asli komodo, berada dalam kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh Pemerintah Pusat.

Jumlah spesies komodo yang tercata pada Agustus 2009, sekitar 1300 ekor komodo. Jumlah mereka keseluruhan sekitar 2500 ekor,Jika ditambah dengan pulau lain, seperti Pulau Rinca dan dan Gili Motang.

Referensi : Wikipedia.org

Petunjuk Penggunaan Gambar :

+ = Zoom in
– = Zoom out
^ = Geser/gulir ke atas
v = Geser/gulir ke bawah
> = Geser ke kanan
< = Geser ke kiri
atau klik pada gambar tahan,…geser ke arah yang diinginkan.

Iklan

GAMBAR FOTO PANTAI NGOBARAN,KANIGORO,SAPTOSARI,GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA Via Google Maps


Pantai Ngobaran yang terletak di desa Kanigoro,Saptosari,Gunungkidul,Yogyakarta memiliki pemandangan unik yang berbeda dari pantai-pantai pada umumnya.Jika dalam keadaan surut pengunjung dapat melihat hamparan rumput laut yang berwarna hijau dan cokelat.layaknya pemandangan hijau di persawahan jika dilihat dari atas pantai. Terdapat beberapa jenis binatang laut di pantai ini diantaranya bintang laut,landak laut,dan kerang-kerangan.

Namun yang sangat unik dari pantai ini adalah pesona budayanya, terutama bangunan ibadahnya,di sini terdapat tempat ibadah untuk empat agama atau kepercayaan berdiri berdekatan.menarik bukan ?

Petunjuk arah mengemudi ke Pantai Ngobaran,Kanigoro, Sapto Sari

Dari Yogyakarta

1. Ke arah utara di Jalan Mayor Suryotomo menuju Jalan Mataram 67 m
2. Belok tajam ke kanan menuju Jalan Juminahan 180 m
3. Belok kanan menuju Jalan Jagalan 550 m
4. Belok kanan menuju Jalan Senopati 250 m
5. Ambil ke-1 kiri menuju Jalan Brigadir Jenderal Katamso 1,5 km
6. Belok sedikit ke kiri menuju Jalan Kolonel Sugiono 500 m
7. Belok kanan menuju Jalan Sisingamangaraja 1,0 km
8. Terus ke Jalan Imogiri Barat 11,3 km
9. Terus ke Jalan Imogiri Timur 4,7 km
10. Belok kanan untuk tetap di Jalan Imogiri Timur 110 m
11. Belok sedikit ke kiri untuk tetap di Jalan Imogiri Timur 9,4 km
12. Belok kiri menuju Jalan Wonosari – Panggang 3,0 km
13. Belok kiri untuk tetap di Jalan Wonosari – Panggang 1,0 km
14. Ambil ke-1 kanan agar tetap di Jalan Wonosari – Panggang 6,2 km
15. Belok kanan untuk tetap di Jalan Wonosari – Panggang 3,0 km
16. Belok kanan 1,5 km
17. Terus lurus 3,8 km
18. Belok kiri 2,0 km
19. Belok kanan 500 m
20. Tanya penduduk sekitar letak pantai ngobaran

Sampai di Lokasi Pantai Ngobaran,Kanigoro
Sapto Sari

<< KEMBALI KE DAFTAR PANTAI-PANTAI DI yOGYAKARTA [..]

GAMBAR FOTO PANTAI WEDI OMBO,jepitu, Girisubo, Gunung Kidul, Yogyakarta Via Google Maps


Pantai Wedi ombo atau berarti pasir yang luas (wedi = pasir,ombo = luas ) itulah kesan pertama pengunjung jika mengunjungi pantai ini.Berjarak kurang lebih 67 km kdari kota Yogyakarta, pantai Wediombo berlokasi di Desa Jepitu, Kecamatan Giri Subo, Kabupaten Gunung Kidul,Yogyakarta.

Di pantai ini dapat dijumpai pemandangan hamparan pasir putih yg luas membentang , dan juga terdapat sepasang batu nganten yang berdiri tegar dihimpit dua gunung di tengah lautan menambah keindahan pantai ini.

Petunjuk arah mengemudi ke Pantai Wedi Ombo,Jepitu, Girisubo

Dari Yogyakarta

1. Ke arah utara di Jalan Mayor Suryotomo menuju Jalan Juminahan 58 m
2. Belok kanan menuju Jalan Juminahan 170 m
3. Ambil ke-2 kanan menuju Jalan Jagalan 550 m
4. Belok kiri menuju Jalan Senopati 170 m
5. Terus ke Jalan Sultan Agung 550 m
6. Terus ke Jalan Kusumanegara 2,7 km
7. Belok kanan menuju Jalan Gedong Kuning 950 m
8. Belok kiri menuju Jalan Piyungan – Kotagede 5 m
9. Terus ke Jalan Raya Wonosari 8,9 km
10. Terus ke Jalan Patuk – Piyungan 270 m
11. Belok kanan menuju Jalan Patuk – Piyungan 1,0 km
12. Belok kanan menuju Jalan Patuk – Piyungan 6,5 km
13. Belok sedikit ke kanan untuk tetap di Jalan Patuk – Piyungan 1,1 km
14. Belok sedikit ke kiri untuk tetap di Jalan Patuk – Piyungan 1,9 km
15. Terus ke Jalan Wonosari 1,6 km
16. Terus ke Jalan Playen – Patuk 3,5 km
17. Belok sedikit ke kiri menuju Jalan Wonosari – Yogya 4,8 km
18. Terus ke Jalan Haji Agus Salim 2,3 km
19. Belok kanan menuju Jalan Veteran 300 m
20. Ambil ke-2 kiri 1,0 km
21. Belok kiri 290 m
22. Belok kiri menuju Jalan Girisubo – Wonosari 600 m
23. Belok kiri menuju Jalan Girisubo – Wonosari 99 m
24. Belok kanan menuju Jalan Girisubo – Wonosari 4,9 km
25. Belok kiri untuk tetap di Jalan Girisubo – Wonosari 13,1 km
26. Belok kanan menuju Jalan Girisubo – Wonosari 1,3 km
27. Terus lurus ke Jalan Girisubo – Wonosari 210 m
28. Belok sedikit ke kiri untuk tetap di Jalan Girisubo – Wonosari 6,7 km
29. Belok kiri untuk tetap di Jalan Girisubo – Wonosari 5,2 km
30. Tanyakan kepada penduduk setempat letak pantai Wedi Ombo

Pantai Wedi Ombo Jepitu
Girisubo

<< KEMBALI KE DAFTAR PANTAI-PANTAI DI YOGYAKARTA [..]

Gambar Foto Pantai Baron Kemadang,Tanjungsari,wonosari,yogyakarta Via Google Maps


Pantai Baron berada di wilayah Kabupaten Gunungkidul, di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari.Pantai Baron adalah pantai yang memiliki ombak yang besar sehingga para pengunjung tidak boleh melewati batas yang telah ditentukan dan harus waspada dan hati-hati bila ingin berenang di pantai ini.
Bentuk Pantai Baron berupa teluk yang diapit oleh dua buah bukit di sisi kanan dan kirinya. Pasirnya berwarna cokelat menghampar di sepanjang pantai.Pantai Baron menjadi dermaga bagi para nelayan setempat,sehingga banyak dijumpai perahu-perahu nelayan yang bersandar di atas pasir. Di Pantai ini juga terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang menjadi tempat para nelayan untuk menjual hasil tangkapannya.

Keistimewaan

Di pantai ini, pengunjung bisa berenang sepuasnya dengan syarat untuk tidak melewati batas terjauh yang telah ditentukan. karena pantai ini memiliki ombak yang cukup besar. Pengunjung bisa bermain pasir sepuasnya, menikmati asinnya air laut,bermain sepak bola pun bisa atau menikmati angin laut yang berhembus kencang. Sehabis mandi dan bermain di air laut, pengunjung dapat mandi di muara sungai bawah tanah yang terdapat di sisi barat pantai ini. Air sungai bawah tanah ini cukup tawar dan segar. Airnyapun cukup jernih karena bersumber dari air bawah tanah perbukitan.

Setelah puas bermain di laut saatnya para pengunjung untuk mencicipi masakan laut hasil tangkapan para nelayan. Di tempat ini banyak restoran yang menyediakan berbagai masakan laut yang dapat dinikmati dengan harga terjangkau. Jika ingin memasak sendiri ikan tersebut,pengunjung bisa membelinya di TPI, tentu saja, ikan yang ada di sana masih segar karena langsung berasal dari hasil tangkapan laut.
Jika ingin berpetualang dan menikmati suasana pantai Baron pada malam hari,pengunjung dapat berkemah di dua bukit yang mengapit pantai ini . Dari atas bukit, pengunjung dapat melihat pemandangan laut yang membentang, bukit di seberang, dan perahu-perahu nelayan yang berwarna putih dan biru yang berjajar. Bukit-bukit di kawasan pantai ini juga cocok untuk olahraga lintas alam atau trekking yang sangat menantang.
Apabia menjelang senja,Pemandangan pantai ini akan lebih indah ,ketika langit mulai berwarna merah kekuningan dan matahari perlahan turun sebelum akhirnya menghilang. Bagi yang senang berburu senja, tentu tak akan rugi menikmati senja di sini.

Lokasi
Secara administratif, Pantai Baron terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berjarak sekitar 65 km dari arah Yogyakarta atau 20 km ke arah selatan dari Wonosari.

Akses
Untuk menuju ke lokasi Pantai Baron, dapat ditempuh dengan menggunakan mobil,motor ataupun kendaraan umum.

Harga Tiket
Untuk memasuki kawasan wisata Pantai Baron, setiap pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp 5.000,-. Tiket ini bisa sekaligus digunakan untuk tiga pantai yang berada di deretan Pantai Baron, yakni Pantai Krakal, Pantai Sundak, dan Pantai Kukup. Biaya parkir di kawasan Pantai Baron adalah Rp 2.500,- untuk mobil dan Rp 1.000,- untuk sepeda motor.

Akomodasi dan Fasilitas lainnya
Beberapa fasilitas yang tersedia di pantai ini diantaranya adalah lahan parkir yang luas, restoran kuliner sea food , hotel dan penginapan dengan harga terjangkau, lokasi camping yang berada di sekitar pantai, dan tempat untuk memancing.

Petunjuk Penggunaan gambar :

+ = Zoom In
– = Zoom out
^ = gulir ke atas
v = gulir ke bawah
> = gulir ke kanan
< = gulir ke kiri

atau klik kiri pada gambar,tahan,….geser ke arah yang diinginkan

<< KEMBALI KE DAFTAR PANTAI-PANTAI DI YOGYAKARTA

GAMBAR FOTO ALHAMBRA,GRANADA,SPANYOL Via Google Maps


Alhambra (bahasa Arab: الحمراء = Al-Ħamrā’; berarti “merah”) adalah nama sebuah kompleks istana sekaligus benteng yang megah dari kekhalifahan bani ummayyah di Granada, Spanyol bagian selatan (dikenal dengan sebutan Al-Andalus ketika benteng ini didirikan), yang mencakup wilayah perbukitan di batas kota Granada. Istana ini dibangun sebagai tempat tinggal khalifah beserta para pembesarnya.

Sumber Tulisan : Wikipedia.org

GAMBAR FOTO LOKASI KERATON NGAYOGJOKARTO HADININGRAT Via Google Maps


Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini berlokasi di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Walaupun kesultanan tersebut secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia pada tahun 1950, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Yogyakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki balairung-balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas.

Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti di tahun 1755. Lokasi keraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahan[2] yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri. Versi lain menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah hutan Beringan. Sebelum menempati Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman.

Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan)[4][5]. Selain itu Keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain, Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Keraton Yogyakarta. Dan untuk itulah pada tahun 1995 Komplek Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dicalonkan untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

Sumber Tulisan : Wikipedia.org

Petunjuk arah mengemudi ke Kraton, Yogyakarta

A. Dari Klaten

1. Ke arah selatan di Jalan Mayor Kusmanto menuju Jalan Andalas

220 m
2. Ambil belokan kiri ke-2 ke arah Jalan Veteran

240 m
3. Belok kanan menuju Jalan Veteran

2,0 km
4. Terus ke Jalan Doktor Soeradji Tirtonegoro

7,3 km
5. Terus ke Jalan Raya Yogya – Solo

12,7 km
6. Terus ke Jalan Laksamana Adi Sucipto

3,8 km
7. Belok kiri menuju Jalan Timoho

700 m
8. Terus ke Jalan Ipda Tut Harsono

1,5 km
9. Belok kanan menuju Jalan Kusumanegara

1,5 km
10. Terus ke Jalan Sultan Agung

550 m
11. Terus ke Jalan Senopati

400 m
12. Belok kiri menuju Jalan Brigadir Jenderal Katamso

1,5 km
13. Belok kanan menuju Jalan Mayor Jenderal Sutoyo

650 m
14. Belok kanan menuju Jalan Gading

180 m

B. Kraton
Yogyakarta

Hangzhou Bay Bridge Via Google Maps


Hangzhou Bay Bridge (simplified Chinese: 杭州湾大桥; traditional Chinese: 杭州灣大橋; pinyin: Hángzhōu Wān Dàqiáo) is a long highway bridge with a cable-stayed portion across Hangzhou Bay in the eastern coastal region of China. It connects the municipalities of Jiaxing and Ningbo in Zhejiang province. At 35.673 km (22 mi) in length, Hangzhou Bay Bridge is one of the longest trans-oceanic bridges in the world. Construction of the bridge was completed on June 14, 2007, and an opening ceremony was held on June 26, 2007, to great domestic media fanfare. The bridge was not opened to public use until May 1, 2008, after a considerable period of testing and evaluation.[2] The bridge shortened the highway travel distance between Ningbo and Shanghai from 400 km (249 mi) to 280 km (174 mi) and reduced travel time from 4 to 2.5

Toll

The current toll rate is RMB ¥80 for a one-way crossing. This applies to all automobiles, both cars and trucks.

History

The bridge across the Hangzhou Bay was the subject of various feasibility studies for over a decade before the final plans were approved in 2003. An earlier plan placed the bridge further east, closer to the mouth of the bay, which provided an even shorter travel distance between Ningbo and Shanghai. Under this plan, the bridge would begin in the north from Jinshan, a suburb of Shanghai. The government of Shanghai rejected the plan and focused on building the 32.5 km (20 mi)-long Donghai Bridge from Shanghai to its off-shore port at Yangshan in the mouth of the bay. The Shanghai government sought to feature Yangshan as the chief port on China’s east coast and refused to allow a cross-bay bridge to be built on its territory, which would improve access to the Port of Ningbo at Beilun. The Zhejiang Provincial Government was forced to build the bridge further to the west on entirely Zhejiang territory. The Hangzhou Bay Bridge connects Cixi, a local-level city that is part of Ningbo Municipality, with Haiyan, a county in Jiaxing Municipality. The Hangzhou Bay Bridge has significantly shortened driving distance between Ningbo and the Yangtze River Delta region and improved the competitiveness of the Beilun Port.

Challenges

Because of the many difficulties facing such a tremendous build, almost 600 experts spent nearly a decade designing the bridge. Even after nearly a decade of design, studies, and planning, many different challenges were encountered, the first being the challenge of offshore construction. As a solution, several parts of the bridge had to be completed on land and then transported to the area for which they were built. Some components that were constructed using this process were piers, box girders (bridge panels), and even the bridge foundations.

Another construction challenge involved the weather in the region. Wang Yong, chief director of the Hangzhou Bay Trans-Oceanic Bridge Construction Command Post, described the bridge as being built “in the world’s most complicated sea environment, with one of the three biggest tides on Earth, the effect of typhoons and the difficult content of the sea soil.” Erosion of materials and cracking and bubbling of any concrete components became a large problem. To combat bubbling and eventual holes, engineers used a cloth-covered template over the concrete. This would improve the color and density of the pieces, making them both more aesthetically pleasing and sturdier. To reduce cracking, engineers used low-strength early-stretching technology when constructing box girders. This technology involves casting (molding) the girder, or bridge panel, letting it harden for no more than three days, and then squeezing it before it reaches its full density. This gives the girder more room to stretch after the bridge is constructed, preventing cracks in the concrete over time.[4]

The third major challenge faced by designers and engineers was an area of toxic methane gas that was discovered roughly 50 meters underground below the location of the bridge. No drilling could be completed before the gas pressure was alleviated. To do this, steel pipes measuring 60 cm in diameter were inserted into the ground, slowly releasing the methane six months prior to drilling.[5]

Service centre

A 10,000 square metre service centre called Land between the Sea and the Sky (Chinese: 海天一洲, Pinyin: Hǎitiān Yīzhōu) is built in the middle of the bridge. This centre contains a resting area, a restaurant, a gas station, a hotel, a conference room, and a lookout tower, which serves as a tourist attraction to watch the tide. The service centre is built on an island, which is a platform resting on piers to avoid obstructing the sea current in the bay.

The service centre was slightly damaged in a fire on the March 23, 2010, but opened to tourists on December 19, 2010.

Source : Wikipedia.org

KEMBALI KE DAFTAR JEMBATAN-JEMBATAN DI DUNIA [..]