photo

GAMBAR FOTO PANTAI NGOBARAN,KANIGORO,SAPTOSARI,GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA Via Google Maps


Pantai Ngobaran yang terletak di desa Kanigoro,Saptosari,Gunungkidul,Yogyakarta memiliki pemandangan unik yang berbeda dari pantai-pantai pada umumnya.Jika dalam keadaan surut pengunjung dapat melihat hamparan rumput laut yang berwarna hijau dan cokelat.layaknya pemandangan hijau di persawahan jika dilihat dari atas pantai. Terdapat beberapa jenis binatang laut di pantai ini diantaranya bintang laut,landak laut,dan kerang-kerangan.

Namun yang sangat unik dari pantai ini adalah pesona budayanya, terutama bangunan ibadahnya,di sini terdapat tempat ibadah untuk empat agama atau kepercayaan berdiri berdekatan.menarik bukan ?

Petunjuk arah mengemudi ke Pantai Ngobaran,Kanigoro, Sapto Sari

Dari Yogyakarta

1. Ke arah utara di Jalan Mayor Suryotomo menuju Jalan Mataram 67 m
2. Belok tajam ke kanan menuju Jalan Juminahan 180 m
3. Belok kanan menuju Jalan Jagalan 550 m
4. Belok kanan menuju Jalan Senopati 250 m
5. Ambil ke-1 kiri menuju Jalan Brigadir Jenderal Katamso 1,5 km
6. Belok sedikit ke kiri menuju Jalan Kolonel Sugiono 500 m
7. Belok kanan menuju Jalan Sisingamangaraja 1,0 km
8. Terus ke Jalan Imogiri Barat 11,3 km
9. Terus ke Jalan Imogiri Timur 4,7 km
10. Belok kanan untuk tetap di Jalan Imogiri Timur 110 m
11. Belok sedikit ke kiri untuk tetap di Jalan Imogiri Timur 9,4 km
12. Belok kiri menuju Jalan Wonosari – Panggang 3,0 km
13. Belok kiri untuk tetap di Jalan Wonosari – Panggang 1,0 km
14. Ambil ke-1 kanan agar tetap di Jalan Wonosari – Panggang 6,2 km
15. Belok kanan untuk tetap di Jalan Wonosari – Panggang 3,0 km
16. Belok kanan 1,5 km
17. Terus lurus 3,8 km
18. Belok kiri 2,0 km
19. Belok kanan 500 m
20. Tanya penduduk sekitar letak pantai ngobaran

Sampai di Lokasi Pantai Ngobaran,Kanigoro
Sapto Sari

<< KEMBALI KE DAFTAR PANTAI-PANTAI DI yOGYAKARTA [..]

Iklan

GAMBAR FOTO ALHAMBRA,GRANADA,SPANYOL Via Google Maps


Alhambra (bahasa Arab: الحمراء = Al-Ħamrā’; berarti “merah”) adalah nama sebuah kompleks istana sekaligus benteng yang megah dari kekhalifahan bani ummayyah di Granada, Spanyol bagian selatan (dikenal dengan sebutan Al-Andalus ketika benteng ini didirikan), yang mencakup wilayah perbukitan di batas kota Granada. Istana ini dibangun sebagai tempat tinggal khalifah beserta para pembesarnya.

Sumber Tulisan : Wikipedia.org

GAMBAR FOTO LOKASI KERATON NGAYOGJOKARTO HADININGRAT Via Google Maps


Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini berlokasi di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Walaupun kesultanan tersebut secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia pada tahun 1950, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Yogyakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki balairung-balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas.

Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti di tahun 1755. Lokasi keraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahan[2] yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri. Versi lain menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah hutan Beringan. Sebelum menempati Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman.

Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan)[4][5]. Selain itu Keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain, Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Keraton Yogyakarta. Dan untuk itulah pada tahun 1995 Komplek Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dicalonkan untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

Sumber Tulisan : Wikipedia.org

Petunjuk arah mengemudi ke Kraton, Yogyakarta

A. Dari Klaten

1. Ke arah selatan di Jalan Mayor Kusmanto menuju Jalan Andalas

220 m
2. Ambil belokan kiri ke-2 ke arah Jalan Veteran

240 m
3. Belok kanan menuju Jalan Veteran

2,0 km
4. Terus ke Jalan Doktor Soeradji Tirtonegoro

7,3 km
5. Terus ke Jalan Raya Yogya – Solo

12,7 km
6. Terus ke Jalan Laksamana Adi Sucipto

3,8 km
7. Belok kiri menuju Jalan Timoho

700 m
8. Terus ke Jalan Ipda Tut Harsono

1,5 km
9. Belok kanan menuju Jalan Kusumanegara

1,5 km
10. Terus ke Jalan Sultan Agung

550 m
11. Terus ke Jalan Senopati

400 m
12. Belok kiri menuju Jalan Brigadir Jenderal Katamso

1,5 km
13. Belok kanan menuju Jalan Mayor Jenderal Sutoyo

650 m
14. Belok kanan menuju Jalan Gading

180 m

B. Kraton
Yogyakarta

Hangzhou Bay Bridge Via Google Maps


Hangzhou Bay Bridge (simplified Chinese: 杭州湾大桥; traditional Chinese: 杭州灣大橋; pinyin: Hángzhōu Wān Dàqiáo) is a long highway bridge with a cable-stayed portion across Hangzhou Bay in the eastern coastal region of China. It connects the municipalities of Jiaxing and Ningbo in Zhejiang province. At 35.673 km (22 mi) in length, Hangzhou Bay Bridge is one of the longest trans-oceanic bridges in the world. Construction of the bridge was completed on June 14, 2007, and an opening ceremony was held on June 26, 2007, to great domestic media fanfare. The bridge was not opened to public use until May 1, 2008, after a considerable period of testing and evaluation.[2] The bridge shortened the highway travel distance between Ningbo and Shanghai from 400 km (249 mi) to 280 km (174 mi) and reduced travel time from 4 to 2.5

Toll

The current toll rate is RMB ¥80 for a one-way crossing. This applies to all automobiles, both cars and trucks.

History

The bridge across the Hangzhou Bay was the subject of various feasibility studies for over a decade before the final plans were approved in 2003. An earlier plan placed the bridge further east, closer to the mouth of the bay, which provided an even shorter travel distance between Ningbo and Shanghai. Under this plan, the bridge would begin in the north from Jinshan, a suburb of Shanghai. The government of Shanghai rejected the plan and focused on building the 32.5 km (20 mi)-long Donghai Bridge from Shanghai to its off-shore port at Yangshan in the mouth of the bay. The Shanghai government sought to feature Yangshan as the chief port on China’s east coast and refused to allow a cross-bay bridge to be built on its territory, which would improve access to the Port of Ningbo at Beilun. The Zhejiang Provincial Government was forced to build the bridge further to the west on entirely Zhejiang territory. The Hangzhou Bay Bridge connects Cixi, a local-level city that is part of Ningbo Municipality, with Haiyan, a county in Jiaxing Municipality. The Hangzhou Bay Bridge has significantly shortened driving distance between Ningbo and the Yangtze River Delta region and improved the competitiveness of the Beilun Port.

Challenges

Because of the many difficulties facing such a tremendous build, almost 600 experts spent nearly a decade designing the bridge. Even after nearly a decade of design, studies, and planning, many different challenges were encountered, the first being the challenge of offshore construction. As a solution, several parts of the bridge had to be completed on land and then transported to the area for which they were built. Some components that were constructed using this process were piers, box girders (bridge panels), and even the bridge foundations.

Another construction challenge involved the weather in the region. Wang Yong, chief director of the Hangzhou Bay Trans-Oceanic Bridge Construction Command Post, described the bridge as being built “in the world’s most complicated sea environment, with one of the three biggest tides on Earth, the effect of typhoons and the difficult content of the sea soil.” Erosion of materials and cracking and bubbling of any concrete components became a large problem. To combat bubbling and eventual holes, engineers used a cloth-covered template over the concrete. This would improve the color and density of the pieces, making them both more aesthetically pleasing and sturdier. To reduce cracking, engineers used low-strength early-stretching technology when constructing box girders. This technology involves casting (molding) the girder, or bridge panel, letting it harden for no more than three days, and then squeezing it before it reaches its full density. This gives the girder more room to stretch after the bridge is constructed, preventing cracks in the concrete over time.[4]

The third major challenge faced by designers and engineers was an area of toxic methane gas that was discovered roughly 50 meters underground below the location of the bridge. No drilling could be completed before the gas pressure was alleviated. To do this, steel pipes measuring 60 cm in diameter were inserted into the ground, slowly releasing the methane six months prior to drilling.[5]

Service centre

A 10,000 square metre service centre called Land between the Sea and the Sky (Chinese: 海天一洲, Pinyin: Hǎitiān Yīzhōu) is built in the middle of the bridge. This centre contains a resting area, a restaurant, a gas station, a hotel, a conference room, and a lookout tower, which serves as a tourist attraction to watch the tide. The service centre is built on an island, which is a platform resting on piers to avoid obstructing the sea current in the bay.

The service centre was slightly damaged in a fire on the March 23, 2010, but opened to tourists on December 19, 2010.

Source : Wikipedia.org

KEMBALI KE DAFTAR JEMBATAN-JEMBATAN DI DUNIA [..]

GAMBAR FOTO Teotihuacan,Mexico Via Google Maps


Kuil Matahari :

Kuil Bulan :

Teotihuacan adalah situs arkeologi besar yang terletak di lembah Mexico, Mexico, dan melingkupi beberapa struktur piramida yang didirikan pada zaman pra-Colombus. Selain terdapat banyak bangunan piramida, situs Teotihuacan juga dahulu merupakan kompleks permukiman besar. Di situs ini juga ditemukan makam dengan lukisan-lukisan yang indah.

“Teotihuacan” diambil dari bahasa Aztec Nahuatl, berarti tempat kelahiran dewa. Menurut lagenda orang Aztec, di sinilah para dewa berkumpul untuk merancang penciptaan kehidupan.

Nama Teotihuacan juga digunakan untuk merujuk kepada kerajaan yang menguasai wilayah lembah ini, yang pada pada masa keemasannya mencakup sebagian besar Mesoamerika.

Pembangunan kota Teotihuacan bermula sekitar 300 SM, dan mencapai masa keemasannya sekitar tahun 300-600 M. Pada mulanya, Teotihuacan mencakup 13 km² dan diperkirakan mempunyai penduduk melebihi 150.000 jiwa, kemungkinan hingga mencapai 200.000 jiwa. Bukti arkeologi menunjukkan bandar Teotihuacan terdiri dari penduduk asli yang berasal dari seeluruh bagian Mesoamerica, seperti Mixtec, Zapotec, dan Maya. Rakyat Teotihuacan menjalin hubungan dagang dengan beberapa daerah lain di Mesoamerika, seperti perdagangan obsidian.

Pusat permukiman Teotihuacan dilengkapi dengan bangunan keagamaan penting, seperti Piramida Matahari dan Piramida Bulan, Kuil Quetzalcoatl, kuil-kuil kecil dan istana-istana.

Tak ada teks tertulis dari Teotihuacan yang tersisa, tetapi penyebutan Teotihuacan dapat diketahui dari teks di situs Maya, yang menunjukkan pemimpin Teotihuacan mengembara dan menundukan penguasa setempat sampai sejauh Honduras. Dari inskrpsi hieroglif Maya, disebutkan Burung Hantu Pelempar Lembing, kemungkinannya merupakan Maharaja Teotihuacan, yang memerintah lebih dari 60 tahun dan meletakkan saudaranya sebagai raja kerajaan Tikal dan Uaxactun di Guatemala.

Pada tahun 650 Teotihuacan mengalamai kemunduran. Teotihuacan lalu mengalami serbuan dari bangsa Toltec, sekitar tahun 750.

Penelitian mengenai reruntuhan situs besar masih berlangsung. Reruntuhan Teotihuacan merupakan tempat permukiman manusia pada zaman Aztec; ia mempesonakan Conquistador yang melaluinya; dan ia merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan yang mengunjungi Mexico semenjak abad ke-19. Penggalian arkeologi kecil-kecilan telah dilakukan sejak abad ke 19, dan pada 1905 proyek penggalian besar-besaran dan pemugaran telah dilakukan di bawah pengawasan pakar arkeologi Leopoldo Batres. Piramida Matahari diperbaiki dalam rangka menyambut kemerdekaan Mexico tahun 1910 yang ke seratus tahun. Teotihuacan terkenal sebagai tujuan wisata. Sekarang situs ini mempunyai museum, dan penggalian arkeologi di situs tersebut masih dilakukan.

Sumber Tulisan : Wikipedia.org

GAMBAR FOTO si Cantik JEMBATAN SURAMADU,SURABAYA-MADURA Via Google Maps


Jembatan Nasional Suramadu adalah jembatan yang melintasi Selat Madura, menghubungkan Pulau Jawa (di Surabaya) dan Pulau Madura (di Bangkalan, tepatnya timur Kamal), Indonesia. Dengan panjang 5.438 m, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini. Jembatan terpanjang di Asia Tenggara ialah Bang Na Expressway di Thailand (54 km). Jembatan Suramadu terdiri dari tiga bagian yaitu jalan layang (causeway), jembatan penghubung (approach bridge), dan jembatan utama (main bridge).

Jembatan ini diresmikan awal pembangunannya oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 20 Agustus 2003 dan diresmikan pembukaannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Juni 2009[2]. Pembangunan jembatan ini ditujukan untuk mempercepat pembangunan di Pulau Madura, meliputi bidang infrastruktur dan ekonomi di Madura, yang relatif tertinggal dibandingkan kawasan lain di Jawa Timur. Perkiraan biaya pembangunan jembatan ini adalah 4,5 triliun rupiah.

Pembuatan jembatan ini dilakukan dari tiga sisi, baik sisi Bangkalan maupun sisi Surabaya. Sementara itu, secara bersamaan juga dilakukan pembangunan bentang tengah yang terdiri dari main bridge dan approach bridge.

Konstruksi

Jembatan Suramadu pada dasarnya merupakan gabungan dari tiga jenis jembatan dengan panjang keseluruhan sepanjang 5.438 meter dengan lebar kurang lebih 30 meter. Jembatan ini menyediakan empat lajur dua arah selebar 3,5 meter dengan dua lajur darurat selebar 2,75 meter. Jembatan ini juga menyediakan lajur khusus bagi pengendara sepeda motor disetiap sisi luar jembatan.

Jalan layang

Jalan layang atau Causeway dibangun untuk menghubungkan konstruksi jembatan dengan jalan darat melalui perairan dangkal di kedua sisi. Jalan layang ini terdiri dari 36 bentang sepanjang 1.458 meter pada sisi Surabaya dan 45 bentang sepanjang 1.818 meter pada sisi Madura.

Jalan layang ini menggunakan konstruksi penyangga PCI dengan panjang 40 meter tiap bentang yang disangga pondasi pipa baja berdiameter 60 cm.

Jembatan penghubung

Jembatan penghubung atau approach bridge menghubungkan jembatan utama dengan jalan layang. Jembatan terdiri dari dua bagian dengan panjang masing-masing 672 meter.

Jembatan ini menggunakan konstruksi penyangga beton kotak sepanjang 80 meter tiap bentang dengan 7 bentang tiap sisi yang ditopang pondasi penopang berdiameter 180 cm.

Jembatan utama

Jembatan utama atau main bridge terdiri dari tiga bagian yaitu dua bentang samping sepanjang 192 meter dan satu bentang utama sepanjang 434 meter.

Jembatan utama menggunakan konstruksi cable stayed yang ditopang oleh menara kembar setinggi 140 meter. Lantai jembatan menggunakan konstruksi komposit setebal 2,4 meter.

Untuk mengakomodasi pelayaran kapal laut yang melintasi Selat Madura, jembatan ini memberikan ruang bebas setinggi 35 meter dari permukaan laut. Pada bagian inilah yang menyebabkan pembangunannya menjadi sulit dan terhambat, dan juga menyebabkan biaya pembangunannya membengkak.

Sumber Tulisan : Wikipedia.org